Anakku ketika kamu besar nanti… Sebelum terlalu banyak kisah ‘cinta’ yang kau impikan, izinkan ayah menceritakan sesuatu.

Dulu, ayah tidak mengerti tentang apa itu cinta. Seiring dengan berjalannya kehidupan ayah di dunia, perasaan cinta itu mulai tumbuh. Anakku, tahukah kamu mengapa ia tumbuh?
Ia tumbuh karena kehangatan, kebaikan, dan kasih sayang yang diberikan kakek dan nenekmu dengan tulus…

Ayah telah jatuh cinta pada nenek dan kakekmu sejak dulu. Ayah telah jatuh cinta pada nenekmu, yang begitu bijak menyikapi kenakalan masa remaja ayah. Ayah juga telah jatuh cinta pada kakekmu, yang bersusah payah mencari uang, demi membayar pendidikan ayah…

Di tahap selanjutnya, ayah telah jatuh cinta pada bundamu… xixixi 🙂

Tahukah kamu nak, mengapa cinta ini tumbuh kepada bundamu ?
Ayah sendiri tak bisa menjelaskannya, ia tumbuh begitu saja tanpa syarat dan tanpa rekayasa. Ia tumbuh begitu cepat, sesaat setelah ayah mengenalnya. Dan cinta ini semakin tumbuh ketika hari itu tiba, hari dimana kami berikrar janji suci, ikrar yang menggantikan yang tadinya haram menjadi halal, ikrar keagungan cinta yang mengharapkan kecintaan Ilahi Rabbi.

Yah begitulah anakku, cinta ini juga berlabuh dihati bundamu. Rasanya seluruh semesta mendoakan kami di atas rumah mungil ini. Cinta ini tumbuh dan semakin kuat. Dari tahun ketahun kami menjalani kehidupan bersama. Kami bersama berusaha melunasi cicilan rumah..xixixi 🙂 , kami juga terkadang bersama shalat berjamaah.

Oh iya anakku… Ayah dan bunda juga pernah bersama-sama merasakan cemas, panik, bahagia dan diakhiri dengan tangis serta kesedihan. Itu dulu nak, ketika kami menyambut kelahiran bayi pertama. Dia kakakmu, yah dia kakakmu anakku. Tapi rupanya Allah berkehendak lain, Dia mengambilnya kembali sebelum kakakmu sempat melihat dunia.

Saat itu kami menangis bersama, air mata ini tak bisa kami bendung walaupun kami sadar semua memang sudah kehendak-Nya. Syukur alhamdulillah pada tanggal 20 Februari 2012 Allah telah menggantinya dengan pemberian yang sangat istimewa. Lahirnya “Bidadari Baru” di keluarga kecil kami.

Kami menjadi pasangan terbahagia kala itu. Tetapi tak bisa kami hindari ayah dan bunda akhirnya membagi cinta. Tahukah kamu nak pada siapa ayah dan bunda jatuh cinta lagi?

Pada tangisan pertamamu anakku. Malam-malam pertama hidupmu, ayah dan bunda menungguimu bergantian, khawatir kamu menangis, mengompol, lapar, haus, kedinginan, dan khawatir tiba-tiba bayi mungil ini tidak menangis lagi.

Ayah dan bunda jatuh cinta pada tangisanmu, yang menandakan bahwa kau kecil tetap bergeliat hidup didunia ini. Kau kecil tengah menempuh masa-masa terhebat beradaptasi dengan dunia ini. Kau kecil… Ah membuat ayah dan bunda jatuh cinta.

Dari hari kehari kita selalu bersama, menyaksikan dirimu berjalan tertatih dengan kaki-kaki mungilmu. Kami bersama khawatir akan biaya pendidikanmu yang semakin mahal. Kami bersama diam-diam dikala kamu tertidur datang mencium keningmu, berbisik lirih, memanjatkan doa agar kau tetap menjadi anak yang shalihah. Kami bersama mendiskusikan rencana kehidupanmu di masa depan, pendidikanmu, kesehatanmu, moralmu, akhlakmu. Kami bersama memikirkanmu semata-mata kaulah titipan Allah untuk kami. Kaulah tanggung jawab kami anakku. Kami bersama untuk dirimu dan semua kebersamaan itu membuat ayah dan bunda semakin cinta.

Cinta yang tumbuh dan semakin tumbuh. Cinta yang mengalir disetiap hembusan nafas, melalui dinding rumah tempat kau bersandar ketika belajar berjalan. Cinta yang mengalir melalui air hangat yang tiap pagi dan sore selalu bunda gunakan untuk memandikanmu. Bahkan cinta ini mengalir melalui tangisan-tangisanmu, tangisan yang menandakan kau membutuhkan sosok seorang bunda.

Ayah dan bunda jatuh cinta pada dirimu anakku. Ketika gigi-gigimu mulai tumbuh, kau belajar makan sendiri. Kau makan berantakan, ayah yang membersihkan. Kau terbalik menggunakan sendok, bunda yang membetulkan. Sungguh itu sebuah proses yang menjadikan cinta kami semakin besar.
Ayah dan bunda jatuh cinta pada dirimu, dirimu yang… ah, bagaimana kami mengatakannya, mengingatnya saja sudah membuat kami mengharu-biru. Ketika kau mengucapkan dengan sempurna kata “ayah” dan “bunda”, kami berdua sangat terharu.

Anakku… Suatu saat kau gadis kecil kami akan tumbuh menjadi wanita yang mempesona. Tapi kami ayah dan bundamu, sesungguhnya juga telah bertambah tua. Badan kami sudah merintih ketika berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu. Namun cinta ini sanggup mengalahkan keletihan itu semua anakku. Cinta ini begitu besar, ia telah membengkak di hati kami ayah bundamu, mengkristal, dan menjadi berkah. Allah telah menjadikan surgamu itu di bawah telapak kaki bundamu nak.

Ketika ayah dan bunda jatuh cinta pada dirimu anakku, maka ayah dan bunda akan mencintaimu untuk selamanya.

Iklan